Sarasehan Kebangsaan Membendung Radikalisme dan Terrorisme di Kampus UIN Raden Intan Lampung.

Pesertanya mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai fakultas.

Acara sarasehan ini selenggarakan oleh Biro Operasi Polda Lampung sebagai wujud upaya pencegahan terhadap bahaya radikalisme di wilayah hukum Polda Lampung.

Dibuka oleh Rektor UIN Prof Dr. Moh Mukri M.Ag. yang dalam pembukaan menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi hari ini dimana banyak kelompok yang mengatasnamakan keagamaan tapi ternyata tidak mencohtohkan perilaku yang baik.

Pak Rektor berharap mahasiswanya belajar dari sejarah agar tidak mudah terprovokasi, sebab pelaku radikal kini memutar balik sejarah dan membuat propaganda agar masyarakat teradu domba sampai mereka mengikuti kelompok mereka.

Pemateri selanjutnya adalah Ken Setiawan yang merupakan mantan pelaku kelompok radikal.

Mantan Komandan NII yang juga merupakan Pendiri NII Crisis Center tersebut mengaku prihatin dengan fenomena simpatik masyarakat belakangan ini, betapa pintarnya kelompok radikal hingga sukses membuat adu domba dan suasana gaduh diberbagai penjuru nusantara.

Ada kelompok militan yang sudah terdoktrin memang anti dan berseberangan dengan karena dianggap pemerintah kafir sehingga dengan sekuat tenaga dia mengkampanyekan propaganda tauhid lewat media apa saja agar tersosialisasi meluas termasuk lewat opini bendera.

Ada simpatisan yg memang sudah terdoktrin tapi tidak masuk dalam struktur organisasi tapi mereka aktif turun ke jalan.

Ada korban opini, ini yang fatal, tanpa tahu permasalahan yang utuh termasuk tidak tahu tafsir tauhid versi kelompok radikal, pokoknya menurut dia adalah peduli tauhid, wajid di bela, ini juga banyak yang turun dalam aksi dan termasuk sebar propaganda masif lewat group medsos.

Banyak yang tiba tiba ikut latah membela tauhid, padahal makna tauhid kita dengan kelompok radikal itu sangat jauh berbeda.

Kelompok radikal sudah sukses menciptakan suasana perang, yang setuju dengan aksi dianggap kawan dan yang kontra dianggap musuh/ lawan.

Bahkan sudah masuk dalam pembeda antara beriman dan kafir, yang pro mereka surga dan yang berseberangan mendapat neraka.

Sungguh luar biasa propagandanya.

Padahal kalau masyarakat tahu sejatinya tafsir ideologi tauhid versi kelompok radikal yang asli, maka akan berpikir seribu kali mendukungnya.

Makna asli tauhid dalam doktrin kelompok radikal sangat berbeda dengan tafsir kita umat Islam pada umumnya.

Tauhid atau ucapan shahadat dalam kelompok radikal diartikan bahwa tidak ada negara kecuali negara Islam, tidak ada hukum selain hukum Islam, tidak ada sistem bernegara selain sistem Islam/ Khilafah.

Mereka juga menggunakan ayat Alquran dalam surat Albaqarah (2: 67) yang menurut mereka itu adalah ayat tauhid dimana didalamnya ada sebuah kisah penting tentang tauhid sebagai pintu gerbang orang masuk Islam, jadi sebelum menjalankan sholat zakat puasa dan haji maka wajib memahami konsep tauhid ini.

Dalam surat Albaqarah mereka menafsirkan bahwa Nabi musa mendapatkan wahyu agar disampaikam kepada umatnya agar mereka memotong sapi betina, awalnya umatnya bingung sapi betina yang seperti apa yang harus di potong.

Lalu Nabi Musa menjelaskan sapi yang harus mereka potong adalah sapi betina yang ciri cirinya tidak tua dan tidak muda, warnanya kuning tua, belum pernah membajak tanah dan sedap dipandang mata dan di jadikan sumber dari segala sumber hukum yang aturannya melawan hukum Allah.

Kelompok radikal juga membuat tafsir bahwa yang di maksud memotong sapi betina adalah memotong/ menggulingkan Pancasila yang ciri cirinya mirip dengan Patung sapi betina dan surat Albaqarah. Pancasila pun di jadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum orang umat Islam Bangsa Indonesia padahal orang Islam hamya boleh bersumber hukum dari Alquran saja.

Mereka menganggap orang yang masih meyakini pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dianggap belum beriman alias masih kafir.

Menurut mereka, barang siapa bernegara/ berhukum selain hukum Islam atau negara Islam/ Khilafah maka dia dianggap kafir.

Mereka berpedoman bila kita dalam bernegara tidak memutuskan perkara tidak bersumber dengan hukum Islam/ Khilafah Islam/ pemerintahan Islam maka kita dianggap Kafir.

Mereka mengangap sistem di Indonesia itu adalah sistem kafir karena dianggap Indonesia masih menyembah berhala pancasila dan masih menggunakan undang undang KUHP peninggalan penjajah belanda.

Jadi kalau masih meyakini ada undang undang lain selain hukum Islam/ Khilafah Islam maka shahadatnya blm sah alias masih dianggap belum beriman alias kafir.

Syarat utama untuk berbaiat dan masuk dikelompok radikal supaya dianggap orang yang beriman adalah menolak, mengingkari dan meninggalkan berhala, dan yang dimaksud berhala adalah Pancasila, karena di jadikan sumber dari segala sumber hukum oleh kita semua warga Indonesia.

Sedangkan sumber hukum orang Islam menurut mereka adalah hukum Islam, Negara Islam/ Khilafah Islam.

Mereka menganggap hari ini adalah kondisi perang sebab hari ini mereka anggap masih kondisi jahiliyyah makanya mereka selalu mengibarkan bendera tauhid yang merupakan simbol perang ketika jaman nabi dalam rangka memerangi orang kafir di Indonesia.

Kelompok radikal sengaja menciptakan suasana saling curiga, bila tidak mengikuti aksi atau berseberangan dianggap memusuhi Islam. Padahal itu adalah propaganda kelompok radikal saja.

Mereka kelompok radikal tidak akan pernah berhenti bergerak sampai Negara Islam/ Khilafah Islam bisa tegak di Indonesia, mereka akan selalu membuat propaganda agar masyarakat mendukungnya.

Bagi mereka apa yang di lakukan oleh pemerintah semua salah, hanya mereka saja yang benar.

Seolah olah ketika menolak aksi mereka mau dibenturkan bahwa kita itu Anti Islam, itu kan lucu, enggak mungkin kita sebagai penganut agama Islam kok anti Islam, mereka senang kalau kita teradu domba, dan mereka itu telah menjual agama dengan sangat murah.

Ken mengatakan kelompok radikal kini mereka bersatu dalam aksi, walaupun berbeda kelompok tapi jika persepsi mereka sama sama anti pemerintah dan anti pancasila, kini mereka bersatu.

Menurut Ken Setiawan sudah saatnya kita bangkit dan waspada serta menjadikan kelompok radikal sebagai musuh bersama,

Kita bentengi keluarga dan lingkungan dari bahaya radikalisme, tutup Ken Setiawan.

Penyampaikan materi berikutnya oleh Kepalaa Biro Operasi Polda Lampung Bapak Kombes Pol Yosi Hariyoso yang menanggapi dari sisi hukum.

Menurut Karo Ops Polda Lampung, Tugas Utama mahasiswa adalah belajar agar bisa berprestasi membanggakan keluarga, bangsa dan negara.

Pak Yosi berharap mahasiswa tidak mudah terprovokasi oleh berbagai issu yang mengatasnamakan sentimen agama karena kampus memang pusat ide dan sasaran yang paling empuk kelompok radikal adalah kampus sebab disana terdapat para pamuda pemudi yang bersemangat mencari ilmu.

Mahasiswa harus kritis bila ada seseorang yang meyampaikan paham radikalisme kepada mereka, jangan sampai terdoktrin dan mengikuti mereka.

Bila mendapati sahabat atau di lingkungan yang terekrut kelompok radikal diharapkan agar segera lapor polisi agar segera di tindak lanjuti, jangan takut, kita akan lindungi pelapor.

Kombes Pol Yosi Hariyoso juga mengundang 5 perwakilan mahasiswa untuk berdiskusi datang ke Polda Lampung untuk berdiskusi lebih lanjut dalam rangka membendung radikalisme di wilayah Lampung.

Penyampaian materi yang terakhir oleh KH Abduk Syukur dari MUI Provinsi Lampung.

Beliau menyampaikan bahwa kini memang banyak muncul kelompok pembelot/ khawarrij sama seperti ketika jaman Saidina Ali dan Muaiwiyah.

Menurut KH Abdul Syukur, masyarakat harus waspada terhadap modus perekrutan mereka yang anti terhadap pemerintah dan anti pancasila dengan menganggap taghut dan kafir.

Hotline Whatsapp
0898-5151-228