Featured

Waspada Kajian Ulama dan Ustadz Gadungan Yang Ajarkan Hujatan, Caci maki dan Ujaran Kebencian

Dalam rangka silaturahmi nasional II, Ikatan Alumni Program Doktor Hukum (IKA-PDH) Fakultas Hukum Universitas Diponegoro mengadakan Webinar dengan Tema “Pancasila, Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme.

Kegiatan webinar ini berlangsung
pada Selasa, 6 Oktober 2020, di Hotel Gran Melia, Jakarta.

Salah satu narasumber adalah pendiri Negara Islam Indonesia(NII) Crisis Center yang juga merupakan mantan aktivis NII menjelaskan kritik kerasnya terhadap situasi radikalisme yang berkembang di masyarakat, yang melibatkan figure-figur yang selama ini ditokohkan di masyarakat seperti oknum ulama dan ustadz tetapi justru menjadi penyebar radikalisme melalui jalur ceramah dan distribusi informasi yang mengandung distorsi, hoax dan ujaran kebencian.

Ken menyebut dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ibnu Syihab tentang kekhawatiran Rasulullah SAW kini telah menjadi kenyataan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Hai para sahabat, aku khawatir terjadi perkara yang menimpa komunitas bangsa dan masyarakat.” Lantas para sahabat bertanya, “Apa ya Rasulullah yang engkau khawatirkan?”

Kata Rasulullah, zaalatul ‘aalimin, yaitu penyimpangan yang dilakukan oleh para ulama atau tokoh agama. Ulama tidak berfungsi sebagai warosatul anbiya. Ulama tidak lagi menjadi penerang dan panutan umatnya.

Faktanya banyak hari ini banyak oknum tokoh masyarakat dan tokoh agama, bahkan yang berlabel ulama dan ustadz yang dalam ceramahnya mengajarkan hujatan, caci maki dan ujaran kebencian. Termasuk ada juga oknum yang ada di Lembaga Swadaya Masyarakat MUI.

Jadi Lembaga Swadaya Masyarakat MUI sekarang seperti kehilangan marwah, karena oknum tersebut dibiarkan. Jelas Ken.

Masyarakat sebenarnya sudah resah terkait sepak terjang oknum ulama palsu yang selalu mengajarkan hujatan, caci maki dan ujaran kebencian, tapi masyarakat mau mengkritik takut mendapat stempel anti Islam, bahkan tidak sedikit yang mengkritik ulama gadungan tersebut kini mendapat sebutan antek komunis.

Nggak tau ngajinya dimana, bahkan yang mualaf sekalipun karena dianggap ceramahnya menyerang pemerintah, lalu tiba tiba disebut ulama, ini kan aneh, jelas Ken.

Ken juga menjelaskan bagaimana pengalamannya menjadi bagian dari NII dan bagaimana akhirnya ia memili keluar dari NII karena menyadari bahwa banyak hal yang secara prinsipiil bertentangan dengan keyakinan keagamaan yang ia pelajari.

Ken mengingatkan bahwa kelompok-kelompok radikal harus dapat ditindak dan pemerintah perlu merancang system yang efektif, sebab mereka aktif 24 jam dan memiliki metode yang baik, sementara upaya pemerintah masih jauh dibandingkan dengan tingkat keaktifan mereka. Tutup Ken.