Jemaah NII Berhaji ke Indramayu?

Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah IX  konon memiliki tak kurang dari 170 ribu jemaah. Sebanyak 120 ribu jemaah di antaranya terkonsentrasi di Jakarta dengan mayoritas anggota adalah mahasiswa. Dalam sebulan mereka wajib setor Rp 14 miliar.

Ken Setiawan dari NII Crisis Center, baru-baru ini mengatakan, gerakan NII yang diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo memang mengalami pasang surut. “Pascapenawanan dan eksekusi Kartosuwiryo 1962 lalu, NII pun diwarnai dengan munculnya fraksi-fraksi baru. Pelencengan akidah di NII KW IX mulai terjadi saat Abu Toto menjadi imam (1996),” katanya.

Menurut Ken Setiawan, Tauhid RMU yang merupakan singkatan dari rububiyah (hukum), mulkiyah (tempat), uluhiyah (umat), merupakan konsep negara bagi NII. Mereka menganggap orang-orang di luar NII adalah kafir, dzalim, dan fasik.

Bentuk-bentuk penyelewengan akidah yang terjadi di dalam NII adalah umatnya menafsirkan Alquran sesuai dengan kepentingan organisasi. “Mereka membagi salat menjadi dua, yakni salat ritual dan salat universal. Negara posisinya dianggap sama dengan Allah dan para pemimpinnya sebagai rasul, dan mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi target,” ujar Ken Setiawan.

Berhaji ke Indramayu

Bahkan, kata Ken Setaiawan, para penganut NII melaksanakan haji ke ibu kota negara mereka, yakni Indramayu. “Selain persoalan penyelewengan akidah, perkembangan NII KW IX juga ditandai dengan pengerukan dana besar-besaran.

Dalam proses pencarian dana, ada banyak modus yang biasa dilakukan. “Umumnya mereka menggunakan semua uang yang dimiliki seperti, uang saku, tabungan dan gaji, ada pula yang menjual barang-barang berharga, menipu orang tua dengan alasan menghilangkan atau merusakkan barang teman, membuat surat palsu mengatasnamakan kegiatan kampus, menyebar proposal, atau meminta sumbangan, bahkan melalui mencuri dari orang di luar kelompok,” urai Ken Setiawan.

Menurut Ken Setiawan, semua dana yang terkumpul dari anggota kemudian dipusatkan di rekening pribadi Abu Toto. Dengan sirkulasi dana yang ada di dalam tubuh NII, perekrutan anggota baru menjadi hal yang sangat krusial di organisasi tersebut.

Ken Setawaian menjelaskan, biasanya untuk merekrut itu setidaknya diperlukan dua orang jemaah, satu orang pemancing dan lainnya pengajak. “Pemancing bertugas menentukan target, mengawal, serta memotivasi calon jemaah. Sementara itu, pemancing berpura-pura sebagai calon jemaah yang juga baru diajak. Keduanya akan mengawal calon jemaah hingga tahap hijrah, termasuk menginap di rumah calon jemaah dan pencarian dana untuk sedekah,” papar Ken yang diamini Sukanto, aktivis NII (1996-2001).

“Karena itulah kita sebenarnya bisa mengidentifikasi manakala teman atau saudara-saudara kita terbujuk untuk masuk dalam NII. Di antaranya adalah mereka memiliki teman baru, jarang kuliah atau mungkin cuti, pulang sering telat tanpa alasan jelas, nilai menurun drastis, menghindar dari teman lama, banyak bohong, sangat sibuk dan teleponnya tak berhenti berdering, mulai merekrut teman-teman terdekatnya, dan menjadi distributor atau penjual majalah tertentu,”