Lembaga Pendidikan Sasaran Propaganda NII

Lembaga pendidikan, baik sekolah maupun kampus harus meningkatkan kewaspadaannya. Pasalnya, lembaga pendidikan menjadi salah satu sasaran propaganda dan perekrutan anggota oleh organisasi radikal, Negara Islam Indonesia (NII).

Demikian dibeberkan mantan pengikut Negara Islam Indonesia (NII), sekaligus pendiri NII Crisis Centre, Ken Setiawan saat memberikan halaqah akbar dalam rangka Dies Natalis ke-14 Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Purworejo, kemarin.

Hadir dalam kegiatan yang mengambil tema membaca gerakan Islam radikal di Indonesia itu, civitas akademika STAIAN, undangan dari perwakilan siswa SLTA se-Purworejo, BEM se- Purworejo serta ratusan mahasiswa STAIAN.

Dalam halaqah itu, Ken Setiawan juga melakukan simulasi bagaimana cara NII melakukan perekrutan. “Pola perekrutan anggota NII sangat bervariasi. Jika ada siswa atau mahasiswa yang sudah masuk NII akan sulit keluar dan sangat berbahaya. Semua orang di luar mereka dianggap kafir, halal harta dan darah termasuk orangtua,” katanya.

Ia mengidentifikasi, gerakan perekrutan NII ke ke kampus dan sekolah-sekolah di Purworejo telah lama berlangsung. Pola perekrutnya sangat halus dan terstruktur hingga akhirnya korban secara tidak sadar ikut bergabung dengan NII.

Diidentifikasi

“Biasanya sebelum direkrut, calon korban sudah diidentifikasi secara detail latar belakangnya. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan cuci otak sebagai pintu masuk perekrutan,” kata Ken yang pernah selama dua tahun menjadi pejabat NII tersebut.

Untuk mencegah perekrutan kepada para siswa atau mahasiswa, dia berharap agar pihak sekolah dan kampus selektif dan senantiasa memonitoring kegiatan siswa, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.

Meski demikian, dia juga meminta untuk tidak pobhia terhadap Islam. Karena setiap kegiatan keislaman tidak berarti NII. Sementara itu, Ketua STAIAN, Sahlan MSi menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dies natalis ke-14 STAIAN ini.

Selain kegiatan halaqah akbar itu, pihaknya juga menggelar pekan mahasiswa, tasyakuran dan sarasehan dies natalis serta ziarah massal ke makam pendiri pondok pesantren An-Nawawi. “Halaqah ini kami berharap dapat memberikan pemahaman bagaimana bahayanya gerakan NII serta cara menanggulanginya, termasuk mengidentifikasi orang sudah masuk NII,” tandasnya.