Mantan Pengikut NII: Mereka Lakukan Pembusukan Islam Dari Dalam

ffff

Mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji angkat bicara soal bahaya laten gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Sebagai mantan Kapolda Jawa Barat, Susno pernah menangkap pelaku NII dan membongkar jaringannya. “Sewaktu saya menjabat Kapolda Jawa Barat pernah menangkap para pelaku kriminal dengan kedok ‘Negara Islam Indonesia’. Saya katakan pelaku kriminal karena mereka memang melakukan tindak pidana, yaitu melakukan pidana makar terhadap NKRI, dan pidana penipuan dan pemerasaan terhadap anggota yang direkrut dengan cara wajib setor untuk organisasi,” ujar Susno.

Susno mengatakan, seorang anggota NII direkrut kemudian didoktrin agar taat dan patuh kepada Imamnya. Bahkan ketaatan seorang anggota NII dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi sang Imam.

“Anggota yang direkrut didoktrin sedemikian rupa sehingga sangat patuh dan taat dengan perintah dari ‘pejabat NII’ termasuk kewajiban untuk setor dana, bahkan sampai orang tua mereka pun dilupakan dan tidak ditaati,” ungkap jenderal bintang tiga ini.

Susno menjelaskan, NII memiliki garis koordinasi yang mirip negara. Struktur organisasi NII tak jauh berbeda dengan struktur organisasi pemerintah.

“Mulai dari kepala desa sampai level kepala negara, ada juga menteri, dan pejabat lainnya,” cerita Susno.

Susno yang divonis 3 tahun 6 bulan terkait kasus dugaan suap PT Salmah Arowana Lestari (SAL) dan dugaan korupsi pengamanan Pilkada Jawa Barat ini mengimbau agar kasus NII tidak dianggap sebelah mata. “Dulu saya menangani kasus NII ini bekerjasama dengan tokoh agama, MUI Jabar, dan tokoh masyarakat. Para petinggi selevel Gubernur dan wakil Gubernur (NII) sudah divonis dan dijatuhi hukuman penjara, sedangkan para korban yang sadar dikembalikan ke keluarga masing-masing,” imbuhnya.

Sebelumnya, Negara Islam Indonesia (NII) kini jadi sorotan akibat kasus pencucian otak atau doktrinisasi yang diduga dilakukan kelompok itu.

Mantan pengikut NII sekaligus pendiri situs NII Crisis Centre, Ken Setiawan mengatakan, gencarnya pemberitaan media ikut mempengaruhi organisasi ini. “Dalam beberapa minggu mereka vakum, tidak melakukan perekrutan, tiarap. Kalaupun ada, mereka tak pakai pola hijrah atau penanggalan kewarganegaraan RI. Katakanlah, mereka Siaga I,” kata dia.

Berdasarkan investigasi, Ken menambahkan, sorotan masyarakat juga membuat pundi-pundi uang NII berkurang. “Untuk jaringan kotak amal di ATM atau pom bensin berkurang omzetnya. Masyarakat yang sudah tahu dari media bahkan mencemooh (penghimpun sumbangan). Ini pukulan telak bagi mereka.”

Berkurangnya jumlah dana berakibat NII harus melakukan perubahan besar-besaran dalam strukturnya. “Struktur dipersempit agar pengeluaran pejabat negara berkurang. Misalnya, seseorang yang menduduki jabatan kepala desa, menjadi jemaah biasa,” kata dia. “Pemberitaan media luar biasa, banyak pengikut yang sadar, orang tua yang kehilangan anak mulai melakukan identifikasi.”

Namun, tambah dia, ada juga akibat negatifnya. Misalnya, orang tua melarang anaknya ikut organisasi keagamaan Islami. “Itu negatif, padahal rohis (kerohanian Islam) adalah sesuatu yang baik, gara-gara NII, orang jadi takut pada Islam. Ini pembusukan Islam dari dalam,” tambah Ken.

Dijelaskan Ken, meski diserang banyak pihak, NII tak akan berhenti melakukan perekrutan. Sasaran mereka ke semua golongan: buruh, karyawan, mahasiswa, bahkan artis.

Ken bahkan mengaku pernah merekrut pembantu rumah tangga, sopir, dan satpam sebuah apartemen. Mereka lantas digunakan sebagai alat untuk mendapatkan uang dengan cara ilegal demi NII: mencuri. Pola perekrutan mereka menggunakan persaudaraan, persahabatan, atau kesamaan asal daerah.

Dengan keyakinan yang ditanamkan, bahwa mereka harus berjuang demi berdirinya NII, para pengikut diwajibkan mengumpulkan uang dalam jumlah banyak. Yang ekstrim, tak jarang mereka menipu orang tua dan orang lain, atau bahkan mencuri.

Bukankah menipu dan mencuri itu hukumnya haram? Menurut Ken, bahkan merokok pun dilarang dalam Undang Undang NII. Mereka bahkan punya proses persidangan atau taklim. Namun, “jika sudah bayar denda maka dosa hilang. Misalnya merokok ada dendanya Rp30 ribu. Demikian juga perbuatan dilarang lainnya seperti zina.”

Menurut Ken, legalisasi perbuatan-perbuatan yang sejatinya dilarang adalah modus untuk menipu para jamaah untuk mengeluarkan sejumlah uang. “Semua yang tidak boleh, dihalalkan asal ada uang.”

Namun, tak mudah untuk memperkarakan NII secara hukum. “Kalau dijerat dengan makar, apa buktinya, tak ada KTP, tak ada bendera. Kalau dijerat pasal penipuan, tak ada yang melapor,” kata dia.

Dugaan cuci otak oleh NII mengemuka, salah satunya terkait kasus Lian yang sempat dinyatakan hilang sejak 7 April 2011 lalu. Hingga akhirnya, petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Cisarua, Kota Bogor, Jawa Barat, menemukan Lian di Masjid At-Taawun, Puncak, Bogor. Saat ditemukan, Lian dalam kondisi hilang ingatan, serta tidak punya identitas diri. Juga dugaan cuci otak yang dialami sejumlah mahasiswa di Malang, Jawa Timur