NII Mengincar Anak SMA

Agresif. Begitulah aktivis Negara Islam Indonesia menjaring pengikut. Rekrut siapa saja. Orang kantoran, pembantu rumah tangga, pengusaha, artis, mahasiswa, bahkan para remaja Sekolah Menengah Atas.  Pengikut dari golongan terakhir  itulah yang bikin cemas orang tua.  Sebab daya tahan para remaja itu masih rapuh.

Soal menyusupnya aktivis NII ke sekolah-sekolah itu dikisahkan oleh Ketua NII Crisis Center, Ken Setiawan, Jumat 6 Mei 2011. Ken Setiawan adalah mantan aktivis NII. Kini dia mendirikan Crisis Center.

Crisis Center itu menerima pengaduan.  Dari orang-orang yang anggota keluarganya hilang. Tim mereka akan melakukan klarifikasi. Sepanjang April 2011, lembaga ini menerima  sekurangnya 2000 pengaduan. Dari yang sudah diklarifikasi, 488 ternyata disabot NII.

Ken memastikan bahwa aktivis NII gencar merayu anak-anak tanggung. Remaja sekolah. Dari penelusurian yang dilakukan tim, Crisis Center menemukan bahwa sebuah sekolah di Bogor, Jawa Barat, sudah digarap aktivis NII.

Sepuluh guru di sekolah itu sukses dirayu. “Tujuh diantaranya sudah terkonfirmasi,” kata Ken.

Bagaimana kiat jaringan itu menyusup ke sekolah. Caranya banyak. Terjun langsung. Juga mengunakan jaringan yang sudah ada di sekolah itu. Dari penelusuran yang dilakukan tim Crisis Center, diketahui bahwa salah seorang guru di sekolah itu, mempunyai saudara yang mengajar di Al Zaytun  Indramayu, pimpinan Panji Gumilang. Panji Gumilang, kata Ken, adalah pimpinan NII.

Sekolah mana saja yang sudah disusupi jaringan itu, Ken menolak membukanya. “Kami khawatir jika dipublikasikan akan geger,” katanya.

Ken Setiawan mengisahkan bahwa penyusupan ke sekolah itu diketahui dari orang tua salah seorang murid yang melapor ke Crisis Center.  Selain mengadu soal anaknya, “Orangtua itu juga melaporkan bahwa banyak juga murid-murid lain yang direkrut,” kata Ken. Bahkan ada  lima murid yang tinggal satu gang yang ‘hijrah’ ke NII.

Sang orang tua mencium keganjilan lantaran nilai sekolah sang  anak terjun bebas. Padahal anaknya itu dipercayakan menjadi Ketua Paskibra. “Ketua Paskibra kan tidak bodoh. Tapi pasca bergabung nilainya anjlok,” jelas Ken.

Perilaku anak yang dibanggakan itu pun berubah aneh.  Sudah berani menilep uang.  Minta uang dengan alasan menganti laptop teman yang hilang. Padahal itu bohong belaka.  Orang tua yang gelisah itu lapor sekolah. Dari situlah diketahui bahwa ternyata si anak ini terjerumus ke NII.

Selain menelusuri jaringan ini, Crisis Centre juga mendampingi korban dan keluarga guna rehabilitasi. Banyak orangtua tidak menyadari bahwa anak mereka sudah masuk perangkap. Kalaupun tahu, mereka tidak mengerti cara menanganinya.

Modus menyusup ke sekolah itu, sesungguhnya sudah lama berlangsung.  Tujuannya dua. Dana dan kaderisasi. Dana bisa didapatkan dari anak-anak yang orang tuanya mampu. Selain anak orang kaya, “Mereka juga merekrut anak-anak berprestasi yang pintar ngomong,” kata Ken. Anak-anak berprestasi itulah yang melakukan indoktrinasi kepada  teman-temannya.

Meski tidak mampu, juga tidak cerdas, tetap diincar oleh aktivis NII.  Sebab, “Mereka pun bisa mendatangkan uang, dengan cara disebar ke ATM-ATM, pom bensin untuk menghimpun sumbangan,” katanya.

Dari penelusuran VIVAnews.com  ke sejumlah sekolah di Bogor, memang ada sekolah yang pernah menjadi target NII.  Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7, misalnya, pernah menjadi target jaringan itu. Sekolah itu terletak jalan Palupu Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Penyusupan jaringan itu terjadi, “Tahun 1990-an. Waktu saya menjadi guru,” kata Kepala Sekolah SMAN 7 Bogor, Surya,  saat ditemui VIVAnews.com di ruang kerjanya, Jumat 6 Mei 2011. Saat itu, kata dia, salah satu guru di sekolah tersebut merupakan pengikut NII dan pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, pimpinan Panji Gumilang.

Guru tersebut, kata dia, kemudian pindah dan mengajar di sekolah lain. “Kami tidak tahu di mana tempat dia mengajar,” kata Surya yang sudah menjadi kepala sekolah sejak 2008 itu.

Surya menjamin bahwa 63 guru yang mengajar di SMAN 7 sekarang bukan pengikut NII. “Karena tingkah lakunya tidak ada yang mencurigakan.” Meski demikian, Surya berjanji akan terus menelusuri latar belakang guru yang terdaftar di sekolah yang dia pimpin.

Selain itu, Surya juga mengatakan pihaknya berupaya agar 118 siswa yang ada terhindar dari perekrutan NII. Caranya dengan pengetatan pengawasan.

Salah satu kegiatan yang diawasi secara intensif adalah pengajian siswa. “Mentor pengajian bukan dari luar sekolah atau mahasiswa tapi langsung guru agama,” imbuhnya. Jika mentor pengajian diambil dari luar, dia khawatir, ajaran yang disampaikan akan kebablasan dan menyimpang.

Secara pribadi, Surya tidak setuju dengan gerakan NII yang menggunakan cara cuci otak. ”Lebih baik, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan berbagai macam suku,” tegasnya.

Laporan soal NII menyusup ke sekolah juga datang dari Demak, Jawa Tengah.  Seorang siswa di sana dicuci otaknya oleh sekelompok orang. Crisis Center masih menelusuri apakah ini ulah NII atau bukan.