Radikalisme Gaya Baru dan Keterkaitan Dengan Terorisme di Indonesia

Radikalisme Gaya Baru dan Keterkaitan Dengan Terorisme di Indonesia
 
Masyarakat kini dibuat bingung oleh pergerakan kelompok radikal yang sekarang secara modus 180 derajat mereka merubah drastis, bahkan susah membedakan mana yang islami dan mana yang radikal sebab semua menggunakan kitab suci sebagai kedog untuk melancarkan aksinya.
 
 
Padahal Islam itu adalah rahmatan lilalamin, mungkin karena Indonesia itu mayoritas Islam dan banyak pelaku terorisme di indonesia mayoritas menggunakan simbol islami maka seolah olah islam di di Indonesia itu Radikal.
 
 
Bahkan kini mereka menusup terhadap kegiatan yang frontal dan mengkritisi pemerintah, dalam kamus mereka walapun berbeda organisasi tapi ketika punya musuh yang sama yaitu menggulingkan pemerintah maka kini mereka bersatu padu.
 
Dianggapnya pemerintah zhalim terhadap masyarakat karena pemerintah masih memakai hukum KUHP peninggalan penjajah belanda jadi menurut kelompok radikal pemerintah dianggap sebagai rezim jahiliyah.
 
Faktanya menurut kelompok radikal itu banyak produk undang undang di Indonesia yang melawan hukum Allah, misal legalisasi pelacuran, perjudian, minuman keras dll,
 
Makanya menurut mereka Indonesia banyak bencana, korupsi dimana mana, bahkan ketua DPR juga tersangkut korupsi karena menurut kelompok radikal bahwa pemerintah melawan hukum Allah.
 
Keadaan ini oleh kelompomradikal diangap sebagai medan jihad sebab mereka mengatakan bahwa hari ini adalah kondisi perang, selain kelompoknya dan yang berbeda pandangan dianggap kafir,
 
Maka orang kafir itu dalam kondisi perang halal darah dan hartanya, boleh diambil secara paksa, di curi ataupun di rampok sebab itu termasuk harta FA’I atau harta rampasan perang.
“Tidak di pungkiri memang masuknya pemikiran baru, seperti euphoria revolusi Iran, jihad Afghanistan dan keberhasilan Ikhwanul Muslimin pada akhir era 70-an juga menjadi penyemangat para pemuda gerakan radikal di terapkan di Indonesia. sebagai ladang jihad.
 
 
Para pemimpin muda itu berasal dari aliran keislaman yang berbeda, sehingga membentuk corak pemikiran dan penafsiran perjuangan yang berbeda-beda.
 
 
Secara garis besar, kelompok radikal terbagi menjadi dua pemikiran besar. Fundamentalis dan pragmatis. Fundamentalis beraliran keras, sedangkan pragmatis beraliran lunak.
Kedua pemikiran itu memiliki tujuan yang sama, menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dan menggantikan Pancasila sebagai sumber hukum dengan syariat Islam.
 
 
Kelompok radikal fundamentalis umumnya merekrut anggota dari kalangan muda yang memiliki pengetahuan agama yang baik. Dasar pemikiran Islamnya sangat kuat dalam menentukan arah perjuangan.
 
 
Kelompok radikal pragmatis justru merekrut anggota dari pemuda yang memiliki ilmu keislaman yang rendah namun mempunyai semangat yang tinggi. Dasar perjuangannya adalah menghalalkan segala cara terhadap musuh, terlepas dari nilai-nilai agama.
 
Nah apakah ada keterkaitan kelompok radikal gayabaru dengan terorisme?
 
Kelompok fundamentalis yang saat itu dipimpin Abdullah Sungkar dan Abu bakar baasyir kemudian keluar dari NII pada tahun 1993 dan membentuk Jamaah Islamiyah (JI). JI membangun afiliasi internasional dengan organisasi militan yang memiliki tujuan lebih global.
 
 
Berbeda dengan radikal NII yang masih berfokus pada tujuan tingkat nasional. Setelah Abdullah Sungkar meninggal dunia tahun 1999, para pengikutnya yang masih berafiliasi dengan kelompok jihad internasional memilih langkah jihad dengan teror untuk melawan Amerika dan sekutunya.
 
 
Untuk menjaring dukungan dan operator lapangan dalam melakukan aksi teror, anggota JI merekrut aktifis NII lain yang berpikiran serupa, seperti NII Ajengan Masduki maupun Gaos Taufik. Hasilnya, pelaku teror kebanyakan berasal dari akar yang sama.
 
 
Kelompok radikal Pragmatis tidak menggunakan cara teror dalam melancarkan aksinya. Namun perekrutan yang dilakukan kelompok ini menyuburkan perekrutan calon-calon teroris dengan meletakkan dasar-dasar militansi serta kebencian kepada NKRI.
 
 
Lalu apa tujuan dan program kelompok radikal gaya baru ini? Dahulu Setelah berjalan operasi anti terorisme, pihak keamanan berhasil memporakporandakan JI dan NII yang beraliran serupa serta menangkap para pelaku teror juga yang menolong dan menjadi pelindungnya.
 
 
Namun, operasi anti terorisme tidak menyentuh kelompok radikal pragmatis. Akibatnya, hingga kini mereka masih terus bergerak dan belum ada tindakan konkrit dari pemerintah untuk menghentikannya.
 
 
Kini, dengan terbukanya sistem politik serta media komunikasi dan informasi yang bebas, ancaman terhadap ideologi Pancasila telah mencapai tahap baru yang mengkhawatirkan.
 
Selain mulai memudarnya Pancasila di masyarakat, lemahnya pendidikan yang mengedepankan moralitas Pancasila serta munculnya generasi muda yang konsumtif semakin memudahkan ideologi selain Pancasila untuk menggerogoti nasionalisme anak bangsa.
 
Bukti teranyar bisa dilihat dari meningkatnya tingkat kekerasan yang berakar kesukuan maupun agama dan menurunnya solidaritas antar anak bangsa, memperlihatkan dengan jelas kerapuhan masyarakat yang tidak memiliki akar nilai dan norma keberagaman yang baik.
 
Belum lagi perluasan ideologi selain Pancasila yang telah merasuk pada tingkatan pelajar serta mahasiswa. Pada kasus ideologi, perubahan pemikiran akibat doktrin ideologis selain Pancasila mengakibatkan resistensi dalam pikir dan tindak bagi banyak pemuda yang telah masuk dalam organisasi bawah tanah yang berorientasi pada penggantian Pancasila sebagai dasar negara.
Suka atau tidak, Kelompok radikal telah menjadi sejarah dan bagian dari negara ini.
 
Tidak bisa begitu saja dilepaskan atau dihapus sebagai suatu hal yang tidak penting, atau dianggap sebagai hal yang tidak pernah ada.
 
Kelompok radikal adalah ideologi dan ideologi tidak pupus mengikuti para tokoh yang menggagasnya. Ia akan tetap hidup dan dihidupi oleh orang-orang yang menginginkan perubahan.
 
Terlepas dari baik dan buruk atau benar dan salah, pertarungan itu akan terus berkecamuk bila tidak ada penanganan yang tepat.
Kelompok radikal gaya baru mungkin tidak dianggap berbahaya oleh pemerintah. Apa karena mereka tidak bawa bedil seperti para teroris?.
 
Itu mungkin pertanyaan yang tidak akan terjawab. Kecuali, pihak pemerintah mau menjawabnya. Yang pasti, pembiaran ini akan terus menimbulkan korban. Korban yang banyak dari generasi muda dengen kedeog agama.
 
Generasi yang seharusnya menjadi tulang punggung negara di masa yang akan datang.
 
Tapi, bukan berarti tanpa pemerintah masyarakat harus diam. Waktunya bersikap untuk menjaga diri, keluarga, teman, tetangga, lingkungan dan bangsa serta negara dari gangguan gerakan kelompok radikal.
 
Jangan jadikan kasus ini menjadi pemecah toleransi dan penyubur saling curiga.
Namun harusnya justru menjadi penyadar, evaluasi diri, pembangun sikap solidaritas dan saling tolong menolong antar anak bangsa.
Nasionalisme bukan hanya sekedar ketika budaya kita di klaim oleh negara tetangga atau sekedar nonton sepakbola yang konon katanya kita nasionalisme banget.
 
Kelompok radikal itu mereka nasionalisme, artine apa, mereka menganggap ada lawan di sekitar mereka, dalan lawan mereka adalah orang yang tidak sepaham dengan vonis kafir, sehingga menjadi legalisasi penghalalan darah dan hartanya.
 
Nasionalisme mereka adalah ada lawan dan merasa terancam, sedangkan kita lihat masyarakat Indonenesia yang tidak merasa terancam,
 
Padahal kalau mau jujur, hari ini kita telah di kepung dengan banyak sekali ancaman bajkan dari segala penjuru, dan kita telah terjebak bahkan kita sudah terjajah, kita sudah teradu domba, terpecah belah dengan konflik antar suku dan agama tapi kita tidak menyadarinya.
 
Sudah saatnya kita bangun dari tidur penjang sebab kita telah ternina bobokan, saatnya peduli, bentengi keluarga, lingkungan terdekat dari segalam potensi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan sehingga tercipta suasana yang aman dan nyaman di masyarakat.