AwaS Hantu NII Masih Membayangi Kawula Muda

 

Kendati banyak anggota Negara Islam Indonesia (NII) ditangkap, bukan berarti NII sudah mati. NII masih tetap eksis dan menjadi ancaman negara jika Pemerintah tidak mewaspadai gerakan NII. Itulah yang diucapkan Ken Setiawan, mantan anggota NII pada acara Seminar Menangkal Radikalisasi Kaum Muda yang digelar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya di Hotel Inna Simpang, Surabaya,

Menurut Ken, sekarang ini banyak masyarakat yang melaporkan ke NII center jika didaerah sekitarnya ada NII. Hal ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, jika tidak ada sosialisasi, mereka cepat melakukan perekrutan anggota.

“NII yang sekarang telah mengubah pola kerjanya. Tidak lagi menggunakan pola-pola lama, tapi sudah modern. Gerakan NII ada dua, teritorial dan bawah tanah,” ujarnya.

Salah satu gerakan NII yang sudah dilakukan terbuka adalah membentuk organisasi Masyarakat Indonesia Membangun (MIM). “Itu gerakan NII. Mereka melakukan gerakan melalui koperasi, diklat, seminar dan lain-lain. Yang berbahaya ini sampai masuk ke mahasiswa,” paparnya.

Ken sendiri mulai masuk anggota NII tahun 2000-2002. Ketika pertama kali masuk ke ibu kota Jakarta, dia berniat mengikuti turnamen bela diri. Namun, niat itu dibatalkan setelah bertemu dengan teman-teman pesantrennya.

Dari ingatan Ken, salah satu doktrin NII yang melenceng dan menyesatkan adalah Syahadat. Jika bunyi syahadat yang sebenarnya adalah tiada Tuhan selain Allah. Sebaliknya, syahadat di NII yaitu tiada negara kecuali negara Islam.

“Ajaran sholatnya juga demikian. Bagi NII sholat itu belum wajib. Alasannya, Indonesia belum menjadi negara Islam. Jadi, sholatnya anggota NII itu universal,” kata Ken yang sekarang membentuk NII center karena merasa prihatin melihat adanya pembiaran dari pemerintah terhadap gerakan NII.